invisible bg invisible ico

Inilah Beberapa Ciri Bayi yang Mengalami Alergi Susu Sapi

Inilah Beberapa Ciri Bayi yang Mengalami Alergi Susu SapiJika saat ini Anda penasaran mengenai ciri bayi alergi susu sapi, maka Anda sedang berada pada artikel yang tepat.  IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) menyatakan bahwa sebanyak 2 – 7.5% bayi yang dilahirkan di Indonesia mengalami alergi terhadap susu sapi.

ASI mungkin memang sangat dianjurkan untuk diberikan pada bayi yang baru lahir hingga usianya mencapai 6 bulan. Namun pada kondisi tertentu beberapa bayi tidak dapat mendapatkan ASI, sehingga harus dilakukan penggantian dengan menggunakan susu sapi atau susu formula. Dan tidak semua bayi toleran atau tidak alergi pada susu bayi. Berikut akan disajikan rangkuman informasi mengenai ciri bayi alergi susu beserta penanganan yang tepat. Let’s start to read!

Teliti dan Ketahui Ciri Bayi Alergi Susu Sapi

Terjadinya reaksi alergi pada bayi disebut juga reaksi imunologi hipersensitivitas. Merupakan sebuah reaksi yang dapat muncul akibat belum sempurnanya saluran pencernaan bayi. Peristaltik usus dan permukaan lambung bayi secara normalnya adalah pelindung utama dari berbagai allergen (penyebab alergi) termasuk protein dalam susu sapi.

Pada beberapa bayi yang baru dilahirkan, usus dan lambungnya belum matang dan belum siap menerima protein atau kandungan laktosa dalam susu sapi. Sehingga menyebabkan beberapa reaksi alergi. Berikut adalah rangkuman mengenai beberapa tanda dan ciri bayi yang mengalami alergi terhadap susu sapi.

1. Bayi Tidak Bertambah Berat Badan

Baik bayi ASI maupun bayi dengan susu sapi/formula akan memiliki pola pertumbuhan yang sama. Hingga usianya 6 bulan, bayi harus mengalami pertumbuhan sepanjang 1.5 hingga 2.5 cm per bulan. Dengan kenaikan berat badan sebanyak 0.5 hingga 1 kilogram. Bayi berusia 6 bulan berat badannya sudah haruslah 2 kali lipat dari beratnya ketika lahir.

Bayi berusia 1 tahun akan mengalami pertumbuhan panjang badan sepanjang 1 cm per bulan dan harus mengalami kenaikan berat badan 0.5 kg per bulannya. Anda harus mewaspadai jika tidak terjadi penambahan berat badan bayi Anda pada tiap akhir bulannya. Bayi dengan alergi susu sapi maupun kondisi kesehatan lain dapat mengalami pertumbuhan yang kurang baik.

2. Sering Gumoh atau Muntah

Ciri kedua jika bayi Anda mengalami alergi terhadap susu sapi adalah sering gumoh dan muntah. Tidak jarangnya perutnya akan terasa lebih kembung dan berisi angin, ketika digendong atau dipindah posisi akan terdengar suara gerakan angin dalam perutnya. Anakpun cenderung rewel, gelisah dan mudah menangis.

3. Diare atau Sembelit (dapat disertai ruam merah pada anus)

Pada bayi yang mengalami alergi pada susu sapi, diare dan sembelit dapat terjadi. Hal ini pun biasanya akan nampak pada area anus. Terdapat kemerahan dan luka pada anusnya. Frekuensi BAB nya tiap hari dapat lebih dari 3 kali dengan konsistensi lendir dan berbau tajam.

Pada beberapa kasus alergi susu sapi, sembelit bahkan dapat terjadi. Perutnya akan teraba keras dan BAB dapat terjadi hanya sekali dalam 3 hari bahkan lebih dengan konsistensi yang padat, keras, berwarna kehitaman dan berbau tajam.

4. Pilek dan Batuk

Anak dengan alergi susu sapi juga akan lebih sering mengalami pilek dan batuk dibandingkan anak yang sehat. Akan terdengar suara ronchi atau suara basah dari pernafasaanya. Bayi juga sering gelisah bahkan terlihat kesulitan untuk bernafas.

Terjadinya pilek dan batuk ini harus segera Anda waspadai dan konsultasikan dengan Dokter Spesialis Anak. Pilek dan batuk pada bayi yang berkepanjangan dapat mengganggu pernafasannya, mengakibatkan berbagai penyakit dan komplikasi lain yang tentu tidak Anda inginkan.

5. Dermatitis Atopik/Ruam dan Bintik Kemerahan pada Kulit Bayi

Tanda lain yang sangat nampak ketika terjadinya alergi pada kulit bayi adalah munculnya ruam dan bintik kemerahan yang dikenal dengan istilah medis dermatitis atopik. Ruam atau kemerahan ini akan sering nampak pada bagian wajah bayi. Tidak jarang ruam ini akan membuat bayi terlihat bengkak dan sangat gelisah karena nyeri, panas dan gatal.

Langkah dan Penanganan Tepat untuk Bayi dengan Alergi Susu Sapi

Apabila terjadi 5 tanda di atas, maka langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah dengan menghentikan terlebih dahulu pemberian susu sapi atau susu formulanya selama 2 hingga 4 minggu. Berikut penjelasan detail mengenai langkah dan penanganan tepat untuk bayi dengan alergi susu sapi.

1. Menghindari Produk Susu Sapi namun Tetap Sehat Seimbang

Jika bayi Anda masih berusia kurang dari 6 bulan maka optimalkan pemberian ASI nya. Ibu harus menghindari pula konsumsi bahan makanan yang mengandung protein sapi. Kalsium tambahan dapat Ibu konsumsi untuk meningkatkan berat badan dan menunjang pertumbuhan bayi. Beberapa makanan juga dapat Anda pilih untuk memperlancar produksi ASI.

Begitupun pada bayi yang telah melampaui usia 6 bulan. Buatlah menu MPASI yang bebas dari protein hewani terutama protein dari sapi namun tetap sehat dan seimbang. Cobalah melaksanakan puasa protein sapi ini selama 2 hingga 4 minggu. Kemudian coba berikanlah kembali pada bayi Anda. Reaksi alergi sementara dapat terjadi pada beberapa bayi.

2. Memberikan Susu Jenis Hipoalergenik (HA)

Jika produksi ASI Anda masih belum optimal untuk memenuhi kebutuhan bayi yang alergi dengan susu sapi. Cobalah mengganti susu sapinya dengan produk susu hipoalergenik (HA). Produk susu hipoalergenik (HA) merupakan produk susu yang tetap berasal dari sapi. Namun, telah mengalami beberapa proses pengolahan, sehingga kadar partikel susu sapi telah banyak berkurang.

Penggunaan susu hipoalergenik (HA) dapat merangsang tingkat toleransi bayi terhadap susu sapi. Bayi yang awalnya tidak toleran dengan susu sapi dapat kembali sehat dan reaksi alerginya menjadi berkurang.

3. Memberikan Susu Jenis Soya

Berbeda dengan susu hipoalergenik, susu soya merupakan susu yang mengandung protein dari kedelai yang setara dengan protein dari susu sapi. Susu soya lebih aman untuk diberikan pada bayi dengan alergi susu sapi. Susu soya tidak mengandung laktosa, namun memiliki kandungan kalsium dan fosfor yang baik untuk pertumbuhan gigi dan tulang bayi.

Susu soya juga mengandung omega 3 dan omega 6 sebagai bahan dasar pembentukan AA dan DHA yang baik untuk tumbuh kembang serta kecerdasan anak yang optimal. Harga susu soya juga cenderung lebih murah dibandingkan susu hipolaergenik (HA). Namun perlu tetap Anda waspadai juga, beberapa bayi mengalami alergi terhadap susu soya. Perhatikan pula berbaga tanda alergi yang hampir sama dengan alergi bayi terhadap susu sapi.

4. Memberikan Probiotik

Probiotik sangat bermanfaat bagi saluran pencernaan bayi. Probiotik ini berfungsi merawat bakteri baik dalam pencernaan bayi terutama pada organ ususnya. Alergi yang terjadinya biasanya akan mengakibatkan ketidakseimbangan flora normal atau bakteri baik dalam saluran pencernaan bayi.

Diare, sembelit dan berbagai penyakit infeksi lain diakibatkan oleh keseimbangan bakteri pencernaan yang kurang baik. Berikan probiotik bersamaan dengan pemberian susu bayi dan sesuaikan dengan dosis yang diberikan oleh dokter spesialis anak Anda.

Demikian informasi mengenai ciri alergi susu sapi pada bayi beserta penanganan yang tepat. Jika bayi Anda tidak kunjung mendapatkan perbaikan kondisi dari berbagai gejala alergi yang terjadi, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi terbaik. Bila perlu carilah komunitas donor ASI, sehingga bayi Anda tetap mencapai pertumbuhan dan perkembangan optimal. Semoga artikel ini bermanfaat dan semoga lekas sembuh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *