invisible bg invisible ico

Hepatitis B – Penyakit Liver dengan Komplikasi Fatal

Hepatitis B - Penyakit Liver dengan Komplikasi FatalDi seluruh dunia, diperkirakan sebanyak 257 juta orang terinfeksi virus Hepatitis B sehingga penyakit liver yang satu ini mendapat perhatian dari kalangan luas baik tenaga kesehatan, akademisi, maupun masyarakat. Selain itu pada tahun 2015 silam, Hepatitis B bertanggung jawab atas 887.000 kasus kematian, sebagian besar akibat komplikasinya. Hepatitis B adalah salah satu jenis infeksi virus yang menyerang hati sehingga dapat menyebabkan penyakit hati baik akut maupun kronis. Virus penyebab Hepatitis B dapat ditularkan melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lain dari seseorang yang terinfeksi.

Vaksin untuk melawan Hepatitis B telah tersedia sejak tahun 1982, dengan keefektifan mencapai 95% dalam mencegah serangan virus dan komplikasinya. Akan tetapi, Hepatitis B masih tetap menjadi penyakit hati yang mengancam nyawa, karena komplikasi fatal yang diakibatkannya seperti sirosis hati dan kanker hati.

Banyak orang yang menderita Hepatitis B tidak menampakkan tanda dan gejala sehingga seringnya penyakit ini baru terdeteksi ketika penderitanya sudah berada pada tahap kronis dan bahkan mencapai komplikasi. Pengetahuan masyarakat tentang apa sebetulnya penyakit Hepatitis B ini, berikut cara pencegahannya pun masih relatif terbatas.

Mengenal Hepatitis B Sebagai Salah Satu Penyakit Liver dengan Komplikasi Mematikan

Hepatitis B terbagi menjadi dua macam: akut dan kronis. Sebagian orang menderita Hepatitis B dalam waktu singkat, lalu kondisinya membaik. Inilah yang disebut dengan Hepatitis B akut. Terkadang, virus penyebab Hepatitis B menyebabkan infeksi jangka panjang, yang disebut dengan Hepatitis B kronis.

Siapa saja yang beresiko terkena infeksi Hepatitis B kronis? Kelompok usia yang lebih rentan terkena Hepatitis B kronis di antaranya adalah bayi dan anak-anak. Faktanya, resiko Hepatitis B untuk berkembang menjadi kronis tergantung pada usia pertama kali seseorang terinfeksi penyakit liver ini. Anak-anak yang berusia di bawah 6 tahun yang terinfeksi virus Hepatitis B adalah yang paling beresiko menderita Hepatitis B kronis di kemudian hari.

Statistik mencatat bahwa pada bayi dan anak-anak, 80-90% anak-anak yang terinfeksi virus Hepatitis B pada tahun pertama kehidupannya akan menderita Hepatitis B kronis setelahnya. Di atas usia 1 tahun, presentase tersebut mengecil menjadi 30-50%, namun angka ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan resiko perkembangan penyakit Hepatitis B kronis pada orang dewasa yang hanya 5% saja.

Cara Penularan Hepatitis B dan Kelompok-Kelompok Kunci yang Rentan Terinfeksi

Bagaimana cara penularan virus Hepatitis B? Seseorang dapat terinfeksi virus Hepatitis B apabila ia kontak dengan darah dan cairan tubuh orang yang terinfeksi. Bahkan, virus penyebab penyakit liver ini dapat bertahan di luar tubuh selama setidaknya 7 hari lamanya. Selama kurun waktu 7 hari di luar tubuh tersebut, virus penyebab Hepatitis B masih dapat menyebabkan infeksi jika virus tersebut memasuki tubuh manusia yang tidak terlindungi oleh vaksin.

Rata-rata masa inkubasi virus penyebab Hepatitis B adalah 75 hari, namun bagi penderita durasi tersebut dapat bervariasi antara 30-180 hari. Virus Hepatitis B dalam tubuh dapat dideteksi antara 30-60 hari pasca infeksi. Setelah itu, virus dapat tetap bertahan hidup di dalam tubuh dan, inilah yang paling ditakutkan, virus yang masih bertahan tersebut dapat berkembang menjadi Hepatitis B kronis.

Melihat dari cara penularan virus Hepatitis B, maka dapat disimpulkan bahwa penyakit liver ini dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain dengan beberapa cara. Yang pertama adalah penyakit ini dapat menular melalui hubungan seks dengan penderita Hepatitis tanpa menggunakan kondom (pada pasangan sesama jenis kelamin, dan pasangan beda jenis kelamin yang melakukan hubungan seks dengan beberapa orang atau dengan pekerja seks komersial memiliki resiko yang lebih tinggi).

Selain itu Hepatitis B dapat ditularkan melalui penggunaan alat suntik secara bergantian, tato atau tindik dengan perlengkapan yang tidak steril, dan berbagi barang yang sifatnya personal seperti pisau cukur atau pasta gigi. Penularan virus Hepatitis B dalam dunia medis pun tidak jarang terjadi, baik melalui prosedur bedah maupun melalui peralatan yang biasa digunakan oleh dokter gigi yang tidak disterilkan dengan baik. Bahkan, tenaga kesehatan yang berada di lini terdepan pelayanan pasien seperti dokter atau perawat juga rentan terkena Hepatitis B apabila tidak menerapkan universal precaution yang tepat.

Seorang ibu hamil yang menderita penyakit liver ini dapat juga menularkannya pada bayi yang sedang ia kandung. Untuk itu, tenaga kesehatan merekomendasikan semua wanita hamil untuk memeriksakan diri apakah mereka terinfeksi Hepatitis B atau tidak. Jika seorang ibu terinfeksi Hepatitis B, bayi yang ia lahirkan dapat memperoleh terapi untuk mencegahnya ikut tertular Hepatitis B.

Penderita Hepatitis B Biasanya Mengalami Tanda dan Gejala Berikut Ini

Sebagian besar orang yang menderita Hepatitis B tidak merasakan gejala apapun pada fase infeksi akut. Meskipun demikian, sebagian orang yang mengalami infeksi Hepatitis B akut mengalami serangkaian gejala yang berlangsung selama beberapa minggu, di antaranya adalah: kelelahan hebat, sakit kepala, demam ringan, kehilangan nafsu makan, mual muntah, nyeri perut, dan air seni berwarna gelap. Selain itu timbul jaundice, yakni mata dan kulit berwarna kekuningan. Biasanya, jaundice pada penyakit liver ini akan muncul begitu tanda dan gejala lain mulai mereda.

Bagaimana mengetahui apakah seseorang menderita Hepatitis B? Agaknya, tidak cukup mendiagnosa penyakit ini hanya melalui tanda dan gejala yang nampak. Untuk menegakkan diagnosa yang akurat dibutuhkan tes laboratorium. Tidak hanya tes laboratorium dapat menentukan apakah seseorang terkena Hepatitis B atau tidak, namun juga mengetahui apakah tahap infeksi masih pada tahap akut atau sudah berada pada tahap kronis.

Pengobatan dan Pencegahan Hepatitis B

Melihat banyaknya kasus penderita Hepatitis B dan betapa mudahnya penyakit liver ini menular dari satu orang ke orang lain, terapi yang tepat sangat dibutuhkan. Untuk Hepatitis B akut sendiri tidak ada terapi yang spesifik. Terapi pada Hepatitis B akut lebih bertujuan untuk mempertahankan kenyamanan dan keseimbangan nutrisi yang adekuat, termasuk mengganti cairan tubuh yang hilang bila penderita mengalami muntah dan diare.

Sedangkan infeksi Hepatitis B kronis dapat dilawan dengan pengobatan yang mencakup agen antiviral. Pengobatan pada Hepatitis B kronis bertujuan untuk memperlambat perkembangan penyakit agar tidak sampai mengarah ke komplikasi seperti sirosis hati dan kanker hati. Selain itu, terapi pada penyakit liver ini juga bertujuan untuk meningkatkan daya tahan penderita dalam kurun waktu yang lebih lama (jangka panjang).

Obat oral yang direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia adalah tenofovir atau entecavir. Kedua jenis obat ini direkomendasikan karena merupakan dua jenis obat yang sangat berpotensi dalam menekan virus penyebab Hepatitis B. Baik tenofovir maupun entecavir jarang menyebabkan resistensi obat dibandingkan dengan jenis obat lain. Bagi penderita, konsumsi kedua jenis obat ini termasuk simpel karena hanya perlu mengkonsumsi 1 butir pil dalam sehari. Selain itu, efek samping kedua jenis obat tersebut relatif minim sehingga hanya membutuhkan pengawasan yang tidak terlalu ketat.

Sayangnya, pada sebagian besar kasus penderita penyakit liver ini, pengobatan yang diterima tidak menyembuhkan infeksi secara total, namun hanya menekan perkembangbiakan virus. Pada kasus-kasus tersebut, penderita harus menjalani pengobatan untuk Hepatitis B seumur hidupnya.

Bagaimana mencegah Hepatitis B? Informasi pencegahan Hepatitis B inilah yang harus diketahui tidak hanya bagi kelompok-kelompok yang beresiko, namun juga bagi masyarakat luas dan kaum muda pada khususnya. Pencegahan Hepatitis B yang paling utama adalah vaksinasi, yang telah dikenal sebagai metode pencegahan yang aman dan efektif. Sejak tahun 1982, lebih dari 1 milyar dosis vaksin Hepatitis B sudah digunakan di seluruh dunia. Di banyak negara dimana penderita Hepatitis B kronis pada anak-anak mencapai hingga 15%, vaksinasi mampu menekan angka tersebut hingga menjadi kurang dari 1%.

Seperti yang direkomendasikan oleh Badan Kesehatan Dunia, semua bayi wajib mendapatkan vaksinasi Hepatitis B segera setelah dilahirkan, lebih baik jika sebelum 24 jam. Hal ini karena presentase perkembangan infeksi menjadi penyakit liver kronis paling besar terjadi pada satu tahun pertama kehidupan bayi. Sehingga, memberikan vaksinasi Hepatitis B pada bayi baru lahir sesegera mungkin akan membantu menekan resiko terinfeksi Hepatitis B dan resiko mengalami Hepatitis B kronis di kemudian hari.

Semua anak dan remaja yang berusia di bawah 18 tahun yang sebelumnya belum mendapatkan vaksinasi harus mendapatkan vaksinasi untuk melawan Hepatitis B tersebut apabila mereka tinggal di daerah yang tingkat endemisitasnya rendah. Kelompok-kelompok resiko tinggi pun wajib mendapatkan vaksinasi. Individu-individu yang termasuk dalam kelompok resiko tinggi di antaranya adalah: individu yang sering mendapatkan transfusi darah, pasien dialisis, dan penerima donor organ tubuh.

Juga termasuk dalam kelompok yang beresiko tinggi terinfeksi penyakit liver ini adalah pengguna obat-obatan dengan jarum suntik; individu yang melakukan kontak seksual dengan penderita Hepatitis B kronis; individu yang melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu orang; tenaga kesehatan atau pekerja yang terekspos darah maupun produk darah selama masa kerjanya; dan individu yang melakukan perjalanan ke daerah endemik Hepatitis B.

Pencegahan Hepatitis B tidak hanya melalui vaksinasi. Pemberlakuan screening bagi produk darah untuk memastikan seseorang menerima transfusi darah yang aman sangat penting. Bagi tenaga kesehatan, sangat dihimbau untuk menerapkan metode injeksi yang aman. Lebih lanjut, praktik hubungan seksual yang aman (berhubungan seksual dengan hanya pasangan yang sah dan menggunakan kondom) juga dapat membantu melawan penyebaran virus Hepatitis B.

Sirosis Hati: Penyakit Liver yang Terjadi Ketika Sel-Sel Hati Mengalami Kerusakan Permanen

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, salah satu komplikasi dari Hepatitis B adalah sirosis hati. Seseorang mengalami sirosis hati apabila sel-sel sehat pada hatinya digantikan oleh jaringan parut, yang menyebabkan struktur dan fungsinya menjadi tidak normal. Ini terjadi setelah sel-sel hati orang tersebut mengalami kerusakan dalam jangka waktu yang lama.

Jaringan parut menyebabkan permukaan hati kasar dan keras, dan setelah beberapa lama, organ tersebut akan mengalami kegagalan fungsi. Hal ini karena jaringan parut pada hati membuat darah sulit mengalir melalui pembuluh darah besar yang menuju ke hati. Darah yang sedianya menuju hati akan mengalir kembali, mengarah ke limpa, dan pada akhirnya akan menimbulkan masalah di organ tersebut.

Sirosis hati termasuk dalam penyakit liver yang berbahaya. Apa dampak sirosis hati bagi hati itu sendiri? Kita semua mengetahui bahwa hati adalah organ tubuh yang sangat penting. Ada banyak fungsi metabolisme yang dilakukan oleh hati. Dua di antaranya adalah memproduksi substansi yang diperlukan oleh tubuh (seperti misalnya protein pembekuan darah yang penting untuk menghentikan pendarahan) dan membuang zat limbah yang berbahaya bagi tubuh (seperti misalnya sisa-sisa pengolahan obat).

Hati juga melakukan peranan penting dalam mengatur asupan kadar gula darah dan lemak yang digunakan tubuh sebagai bahan bakar metabolisme dan aktivitas sehari-hari. Agar dapat melakukan semua fungsi yang telah disebutkan tersebut, tentu saja sel-sel hati harus berada dalam kondisi sehat dan prima sehingga mereka dapat bekerja secara normal. Pada sirosis hati, sel-sel hati mengalami kerusakan sehingga dapat dipastikan seseorang yang menderita sirosis hati fungsi-fungsi tubuhnya akan banyak mengalami gangguan.

Selain Hepatitis B, Inilah Beberapa Kemungkinan Penyebab Lain dari Sirosis Hati

Penyakit liver ini tidak berdiri sendiri, melainkan selalu didahului oleh penyakit tertentu yang sudah dimiliki oleh seseorang. Telah jelas bahwa sirosis hati merupakan ‘kelanjutan’ dari Hepatitis B kronis. Namun, ada penyebab lain yang juga dapat mengarah ke sirosis hati, antara lain sebagai berikut:

  • Konsumsi alkohol

Banyak kita mendengar kasus pecandu alkohol yang berakhir mengenaskan dengan penyakit liver yang parah. Faktanya, seseorang yang senang mengkonsumsi alkohol, apalagi hingga berlebihan, memang harus waspada akan kerusakan yang terjadi di livernya. Terlalu banyak minum alkohol selama bertahun-tahun dapat menyebabkan perlemakan (fatty liver) dan peradangan pada hati, yang pada akhirnya dapat meningkatkan resiko seseorang terkena sirosis hati.

  • Fatty liver

Fatty liver adalah pembengkakan hati yang terjadi akibat penimbunan lemak yang berlebihan dalam sel-sel hati. Tidak hanya peminum alkohol saja yang bisa mengalami fatty liver. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan seseorang dapat mengalami penimbunan lemak dalam sel-sel hatinya, seperti: kelebihan berat badan, diabetes, memiliki kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah yang tinggi, dan tekanan darah tinggi.

  • Hepatitis autoimun

Pada hepatitis autoimun, penyakit liver yang terjadi tidak disebabkan oleh virus melainkan oleh sistem pertahanan tubuh sendiri yang menjadi tidak terkendali dan menyerang sel-sel hati. Banyak dokter yang memperkirakan bahwa gangguan ini bersifat genetik, yang artinya diturunkan dalam keluarga. Hepatitis autoimun lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria.

  • Kerusakan pada saluran empedu

Saluran empedu adalah saluran kecil yang membawa empedu dari hati ke usus halus. Apabila saluran ini tersumbat karena trauma atau suatu penyakit tertentu (seperti misalnya batu empedu), empedu yang sedianya dialirkan ke usus halus akan berbalik menuju liver dan dapat menimbulkan sirosis hati.

Tanda dan Gejala Sirosis Hati

Awalnya, sirosis hati masih dapat dikompensasi oleh tubuh sehingga seseorang tidak akan mengalami gejala tertentu. Sekalipun sel-sel hatinya sudah mengalami kerusakan, namun masih cukup banyak sel-sel yang sehat untuk menjalankan tugas hati untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Sel-sel sehat ini mengkompensasi atau mengambil alih tugas sel-sel yang rusak.

Namun, apabila seseorang tidak juga menyadari penyakit liver yang tengah berkembang dalam tubuhnya, dan ia tidak mendapatkan terapi yang baik, kondisi ini akan makin memburuk seiring berjalannya waktu. Sel-sel hati yang sehat lambat laun tidak akan mampu lagi melakukan tugas beratnya. Akibatnya banyak fungsi tubuh yang tidak berjalan dengan baik. Tubuh pun menjadi penuh racun akibat hati tidak mampu membuang sisa-sisa metabolisme. Dari sanalah kemudian akan muncul gangguan-gangguan berikut ini:

  • Pendarahan dari pembuluh darah besar di kerongkongan
  • Penumpukan cairan di perut, yang dalam dunia medis dikenal dengan sebutan ascites
  • Penumpukan racun dalam darah
  • Jaundice (warna kuning pada kulit dan mata)
  • Batu ginjal
  • Mudah memar dan mengalami pendarahan

Ancaman Kanker Hati: Komplikasi Lain dari Hepatitis B

Kanker hati terjadi ketika sel-sel hati mengalami mutasi sehingga pertumbuhannya menjadi tidak terkendali dan membentuk tumor. Sama seperti Hepatitis B dan sirosis hati, penyakit liver ini tidak menimbulkan tanda dan gejala apapun ketika masih berada pada tahap awal. Ketika sudah mulai menampakkan tanda dan gejala, seseorang yang menderita kanker hati mungkin akan kehilangan berat badan (meskipun tidak sedang dalam program diet), kehilangan nafsu makan, nyeri di perut bagian atas, mual, muntah, lemah, kelelahan, pembengkakan perut, jaundice, dan tinja menjadi berwarna putih.

Selain Hepatitis B, ada beberapa kemungkinan penyebab kanker hati yang lainnya. Namun perlu diingat bahwa beberapa kemungkinan penyebab tersebut bukanlah penyebab pasti, melainkan faktor resiko. Dalam artian, apabila seseorang memiliki salah satu atau lebih dari beberapa kemungkinan penyebab tersebut, resikonya untuk menderita kanker hati akan meningkat. Kanker itu sendiri belum diketahui penyebab pastinya hingga sekarang. Meskipun demikian, dengan mengetahui beberapa kemungkinan penyebab di bawah ini, resiko menderita kanker hati bisa ditekan seminimal mungkin.

  • Sirosis hati dan penyakit liver lainnya

Kerusakan sel-sel hati menyebabkan pembentukan jaringan parut secara progresif dan permanen. Jaringan parut yang semakin berkembang memperbesar resiko seseorang untuk menderita kanker hati. Sirosis hati ini sendiri juga merupakan komplikasi dari Hepatitis B. Selain sirosis hati, ada beberapa kondisi penyakit hati yang langka dan diturunkan dalam keluarga, seperti misalnya hemakromatosis dan Wilson’s disease.

  • Diabetes

Sebelum makan, kadar gula darah seseorang hendaknya berada dalam rentang 70-130 mg/dL. Dua jam setelah makan, angka tersebut haruslah berada di bawah 180 mg/dL. Sedangkan apabila dalam keadaan puasa (tidak makan selama setidaknya delapan jam), kadar gula darah seharusnya kurang dari 100 mg/dL. Seseorang yang memiliki kadar gula darah di atas rentang normal tersebut memiliki resiko lebih besar untuk menderita penyakit liver yang ganas ini dibandingkan dengan seseorang yang memiliki kadar gula darah normal.

  • Fatty liver

Telah disebutkan di atas bahwa fatty liver adalah salah satu penyebab sirosis hati. Ternyata, kondisi inipun menjadi salah satu dari beberapa kemungkinan penyebab kanker hati. Oleh sebab itu, hal ini hendaknya menjadi cukup alasan bagi banyak orang untuk menghindari hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya fatty liver, seperti konsumsi alkohol berlebih dan konsumsi makanan yang banyak mengandung lemak.

“Apakah Saya Menderita Kanker Hati?”

Untuk menjawab pertanyaan tersebut tidak cukup bagi dokter atau tenaga kesehatan lainnya hanya melihat tanda dan gejala yang nampak saja. Tentunya tenaga kesehatan pun tidak ingin salah mendiagnosa, bukan? Berikut ini adalah beberapa prosedur yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosa penyakit liver ini secara akurat:

  • Tes darah, yang akan menjelaskan apakah ada ketidaknormalan pada fungsi hati atau tidak
  • Ultrasonografi (USG), computerized tomography (CT) scan, dan magnetic resonance imaging (MRI) biasanya akan direkomendasikan oleh dokter.
  • Mengambil sedikit contoh jaringan hati untuk diperiksa di laboratorium.

Proses pengambilan contoh jaringan dari organ tubuh ini disebut dengan biopsi. Pada saat biopsi, dokter akan memasukkan jarum yang tipis. Jarum tersebut menembus kulit dan masuk ke dalam hati untuk mendapatkan contoh jaringan. Di laboratorium, dokter akan memeriksa contoh jaringan tersebut di bawah mikroskop untuk mencari keberadaan sel-sel kanker.

Prosedur biopsi ini memang membawa beberapa resiko, seperti pendarahan, memar, dan infeksi. Akan tetapi berhubung prosedur ini dapat menegakkan diagnosa kanker secara definitif (pasti), dokter dan tenaga kesehatan yang terlibat akan berusaha sekuat tenaga untuk menekan resiko-resiko tersebut seminimal mungkin.

Begitu penyakit liver ini berhasil terdiagnosa, dokter dengan bantuan CT scan dan MRI akan bekerja untuk menentukan ukuran kanker, lokasi pasti munculnya kanker tersebut, dan apakah kanker sudah menyebar. Jika sudah menyebar, dokter juga akan menentukan sejauh mana penyebaran kanker tersebut.

“Jika Saya Menderita Kanker Hati, Apakah Saya Bisa Sembuh?”

Kesembuhan dari kanker hati akan sangat tergantung pada terapi yang diterima. Sedangkan terapi yang diterima juga sangat tergantung pada stase penyakit tersebut (lokasi, ukuran, dan penyebarannya), usia penderita, dan keadaan kesehatan penderita secara keseluruhan. Ada beberapa metode terapi pada kanker hati:

  • Pembedahan untuk mengambil tumor

Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh, adakalanya dokter akan merekomendasikan pembedahan untuk mengambil sel-sel kanker yang ada di hati. Kemungkinan sebagian kecil dari jaringan hati yang sehat di sekeliling sel-sel kanker tersebut juga akan ikut diambil, namun hal tersebut hanya akan dilakukan apabila daerah yang terkena kanker relatif kecil dan fungsi hati secara keseluruhan masih baik.

  • Transplantasi hati

Membicarakan mengenai transplantasi hati mungkin akan membuat ingatan masyarakat Indonesia tertuju pada Dahlan Iskan, penderita penyakit liver yang menjadi sosok pertama yang berhasil menerima hati sehat dari donor. Kala itu (tahun 2007), negara kita belum mampu melakukan operasi transplantasi hati sendiri sehingga beliau harus melakukan prosedur tersebut di China. Namun seiring dengan keberhasilan proses transplantasi hati yang beliau jalani, kemampuan tenaga kesehatan di Indonesia pun berkembang pesat sehingga operasi transplantasi di dalam negeri pun mulai dapat melakukan.

  • Radiasi

Pada prosedur ini, seseorang yang menderita kanker hati akan berbaring di meja khusus dan sebuah mesin akan menghasilkan sinar berenergi tinggi yang akan ‘menembak’ titik tertentu pada tubuhnya. Sinar X dan proton digunakan untuk memusnahkan sel-sel kanker dan mengecilkan ukuran tumor. Dokter akan sangat berhati-hati agar sinar dapat mengarah ke jaringan yang rusak dan menghindari jaringan sehat.

  • Obat

Obat jamak digunakan dalam terapi penyakit liver ini karena terbukti dapat memperlambat atau menghentikan sel-sel kanker agar tidak terus berkembang. Setidaknya, obat akan menghambat perkembangan sel-sel kanker beberapa bulan lebih lama dibandingkan dengan apabila seseorang tidak menjalani terapi apa-apa sama sekali.

  • Perawatan paliatif

Perawatan paliatif bertujuan meredakan nyeri dan ketidaknyamanan pada pasien kanker atau penyakit kronis lainnya. Perawatan paliatif dapat dilakukan sejalan dengan terapi lainnya seperti operasi, kemoterapi, atau radioterapi. metode terapi ini dilakukan oleh tim yang terdiri dari dokter, perawat, dan tenaga kesehatan profesional lainnya yang sudah terlatih dalam bidang perawatan penyakit kronis. Tujuan perawatan paliatif adalah untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Meskipun demikian, metode terapi ini tergolong baru di Indonesia dan masih menjalani perkembangan.

Hepatitis B sekilas tidak membahayakan. Namun dari uraian panjang di atas, kini kita mengetahui bahwa penyakit liver ini tidak seharusnya dipandang sebelah mata. Demikian artikel yang dapat kami sampaikan tentang penyakit Hepatitis B dan komplikasinya, semoga dapat membawa manfaat bagi kita semua .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *