invisible bg invisible ico

Gejala Awal HIV – Jangan Remehkan dan Waspadai!

Gejala Awal HIV - Jangan Remehkan dan Waspadai!Makin meningkatnya kasus penderita HIV/AIDS yang terdata dan terekspos di media massa tentu memantik keingintahuan kita tentang bagaimanakah gejala awal HIV. Berdasarkan data yang diperoleh dari Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, jumlah kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) mengalami peningkatan dalam sepuluh tahun terakhir. Peningkatan tersebut karena makin banyak masyarakat yang waspada terhadap bahaya HIV/AIDS sehingga mau melakukan tes untuk mengetahui statusnya.

Awalnya masyarakat yang dites hanya kelompok kunci yang diduga rentan mengidap HIV/AIDS, seperti pasangan heteroseksual yang melakukan hubungan seks tidak aman, pengguna NAPZA suntik yang menggunakan jarum suntik tidak steril, dan homoseksual. Namun kini tes HIV/AIDS dapat dilakukan pada populasi umum, misalnya pada ibu rumah tangga yang sekarang juga menjadi salah satu kelompok yang beresiko mengidap HIV/AIDS.

Pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak juga gencar melakukan penyuluhan untuk mencegah penularan virus ini lebih luas lagi. Bahkan, kegiatan penyuluhan tentang HIV/AIDS juga menyentuh anak-anak muda, dengan pertimbangan bahwa sebagian besar anak muda di Indonesia masih belum sepenuhnya memahami penyebaran HIV/AIDS serta gejala awal HIV.

Sekilas tentang Virus HIV Penyebab AIDS dan Gejala Awal HIV

HIV singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus ini melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia dengan cara menyerang dan menghancurkan sel-sel darah putih yang bertugas melawan infeksi. Sel-sel darah putih ibarat prajurit yang berjaga di garis depan untuk melawan infeksi virus maupun bakteri yang menyerang tubuh. Tidak adekuatnya sel-sel darah putih dalam tubuh manusia akan membuatnya rentan terserang infeksi yang serius dan beberapa jenis kanker tertentu.

HIV dapat ditemukan pada cairan tubuh seseorang yang terinfeksi virus ini. Cairan tubuh yang dimaksud yakni cairan sperma, cairan vagina, cairan anus, darah, dan ASI. Itulah sebabnya HIV dapat menular melalui beberapa cara: hubungan seks yang tidak aman (termasuk juga seks oral dan penggunaan alat bantu seks secara bergantian), dari ibu ke bayi (baik pada masa kehamilan, saat persalinan, atau ketika menyusui), transfusi darah dari orang yang terinfeksi, serta penggunaan jarum suntik termasuk perlengkapan penunjangnya secara bergantian. HIV tidak dapat ditularkan melalui keringat atau air seni.

AIDS singkatan dari Acquired Immunodeficiency Syndrome, yang merupakan tahap akhir dari infeksi virus HIV. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tidak semua orang dengan HIV secara otomatis mengidap AIDS. Gejala HIV tergantung pada tahapannya, yang terdiri dari tiga tahap.

Pada tahap pertama, gejala awal HIV mirip seperti jika seseorang mengalami pembengkakan kelenjar getah bening atau flu. Gejala yang timbul dapat meliputi demam, menggigil, ruam merah pada kulit, banyak berkeringat di malam hari, nyeri otot, sakit tenggorokan, lelah, bengkak pada kelenjar getah bening, dan terdapat luka pada mulut.

Gejala-gejala tersebut biasanya timbul dalam waktu 2-4 minggu setelah infeksi virus HIV. Meskipun demikian, sebagian orang bisa saja tidak merasakan apapun pada tahap ini. Pada tahap ini, apabila seseorang melakukan tes HIV bisa saja menunjukkan hasil negatif, namun faktanya seseorang yang berada pada tahap pertama infeksi virus HIV sangat tinggi kemungkinannya untuk menularkannya pada orang lain.

Menyusul gejala awal HIV, setelah tahap pertama penyakit ini kemudian beranjak ke tahap berikutnya yang disebut dengan tahap latensi klinis (kadang juga disebut dengan infeksi HIV kronis). Pada tahap ini, HIV masih aktif dan bereproduksi pada tingkatan yang sangat rendah. Seseorang yang berada pada tahap ini tidak akan mengalami gejala terkait HIV, oleh sebab itu banyak yang tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya terinfeksi HIV.

Tahap kedua ini dapat berlangsung selama sepuluh tahun atau lebih (bagi yang tidak mengkonsumsi antiretroviral), meskipun pada sebagian orang tahap ini bisa saja berlangsung lebih singkat. Meskipun tidak menampakkan gejala apapun, orang yang terinfeksi HIV pada tahap ini dapat menularkan virus pada orang lain. Bagi mereka yang menjalani terapi antiretroviral untuk menekan kadar HIV dalam darah, kemungkinan untuk menularkan virus lebih kecil.

Jika seseorang terinfeksi HIV dan tidak mendapatkan terapi antiretroviral, pada akhirnya virus tersebut akan melemahkan daya tahan tubuh dan akan berkembang menjadi AIDS, tahap akhir dari infeksi HIV. Berbeda dengan gejala awal HIV yang hanya menyerupai serangan flu, pada tahap akhir ini gejala yang timbul tampak lebih nyata, seperti misalnya: penurunan berat badan yang signifikan, demam yang terjadi berulang kali, pada malam hari berkeringat sangat banyak, rasa lelah yang amat sangat dan susah dicari penyebabnya, pembengkakan kelenjar getah bening yang berkelanjutan.

Gejala lain yang timbul pada tahap akhir ini adalah diare yang berlangsung hingga satu minggu atau lebih, radang paru-paru, dan kelainan pada sistem saraf. Pada mulut, anus, atau area genital biasanya terdapat perlukaan. Pada kulit atau bawah kulit biasanya terdapat bercak berwarna kemerahan, cokelat, atau keunguan.

Mendeteksi Adanya HIV dalam Tubuh

Untuk mengetahui apakah Anda terinfeksi HIV tidak hanya semata dengan mengandalkan gejala yang timbul. Apalagi, gejala-gejala yang timbul sangat general sehingga bisa jadi berhubungan dengan penyakit lain. Untuk itu, apabila Anda merasa beresiko terinfeksi HIV, segera datangi klinik atau rumah sakit terdekat untuk melakukan tes HIV. Tes HIV ini bersifat sukarela dan rahasia.

Sebelum melakukan tes, seseorang biasanya akan diberi konseling terlebih dahulu. Tujuan dari konseling ini adalah untuk membahas pola hidup sehari-hari dan mengkaji tingkat resiko infeksi. Pada konseling ini juga akan dibahas mengenai cara menghadapi hasil tes HIV apabila terbukti positif. Jika tes HIV menunjukkan hasil positif, Anda kemudian akan dirujuk ke klinik atau rumah sakit spesialis HIV.

Hingga saat ini belum ada obat yang dapat sepenuhnya menghilangkan HIV. Namun, pilihan terapi yang ada saat ini efektif dalam menghambat perkembangan virus dan menekan agar kadar virus dalam darah tetap rendah. Dengan terapi tersebut, dibarengi dengan serangkaian pola hidup sehat lainnya (mengkonsumsi makanan sehat, menjauhi rokok, mendapatkan vaksin flu tahunan dan vaksin pneumokokus tiap lima tahun), kemungkinan untuk terserang penyakit berbahaya akibat AIDS dapat ditekan.

Fakta bahwa hingga kini belum ada obat yang dapat menyembuhkan HIV/AIDS membuat penyakit ini ibarat momok bagi setiap orang. Namun demikian, bukan berarti tidak ada yang dapat kita lakukan. Masing-masing dari kita dapat melakukan langkah-langkah pencegahan HIV, yakni dengan melakukan hubungan seks secara aman dengan satu pasangan saja serta tidak pernah berbagi jarum dan peralatan menyuntik dengan siapapun.

Kita juga dapat melibatkan diri dengan berbagai kegiatan penyuluhan untuk memastikan agar masyarakat luas, khususnya kelompok-kelompok yang beresiko terinfeksi HIV, mendapatkan informasi yang benar tentang penyakit ini. Demikian artikel yang dapat kami sajikan tentang HIV/AIDS, yang meliputi tahapan penyakit, gejala awal HIV, berikut pencegahan dan deteksinya. Semoga bermanfaat untuk kita semua .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *