invisible bg invisible ico

Cara Menyapih Anak dari ASI dengan 3 Tahap Mudah

Cara Menyapih Anak Dari Asi Dengan 3 Tahap MudahMenyapih adalah salah satu usaha memberhentikan ketergantungan bayi kepada ASI. Bisa juga disebut sebagai upaya menghentikan bayi menyusu dari mamae atau payudara ibu. Ada banyak cara menyapih anak dari ASI, namun perlu diketahui bahwa menyapih tentunya bukan hal yang mudah. Menyapih juga menimbulkan situasi yang emosional bagi ibu dan bayi karena ikatan mereka yang kuat.

Bisa dikatakan bahwa menyapih anak itu gampang-gampang susah. Agar penyapihan berhasil maka cara yang ibu pilih harus tepat sehingga anak tidak terpaksa dan nutrisi yang dikonsumsinya tetap seimbang dan terpenuhi. Penyapihan yang tepat juga pastinya bisa menghindarkan ibu dari pembengkakan payudara yang mungkin muncul lantaran sebelumnya diminum oleh anak atau bayinya.

Tahapan Terpadu Cara Menyapih Anak Dari ASI

Ikatan emosi yang muncul antara ibu dan anak selama menyusui pastilah sangat kuat. Anak yang sejak lahir terus berada dalam pelukan ibunya, dan ibu yang berhasil memberikan ASI selama enam bulan full tentunya memiliki sebuah hubungan emosional yang tak akan pernah bisa diabaikan. Ikatan ini jelas hal positif dalam hubungan ibu dan anak. Oleh karena itu, proses menyapih ini dilakukan tentunya sebisa mungkin agar tidak merusak ikatan emosional tersebut. Dan agar cara menyapih yang dilakukan berjalan dengan baik dan benar maka penyapihan pun dilakukan secara bertahap.

Tahap satu

Tahap pertama adalah tahap di mana ibu sebaiknya menentukan kapan waktu yang tepat untuk menyapih. Hal ini dikarenakan memang tak ada aturan atau keharusan pasti kapan waktu yang tepat untuk menyapih. Tidak ada sumber yang mengatakan dengan pasti, umur sekian atau umur tertentu.

Sehingga pemberhentian pemberian ASI atau menyapih dilakukan tergantung anak masing-masing. Memang ada yang berkata bahwa waktu terbaik yaitu pada usia satu sampai dua tahun yang mana pada usia ini, anak dianggap sudah siap. Namun yang pasti, usai pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, maka di bulan berikutnya anak yang sudah makan MPASI maka ia boleh saja disapih. Tentunya dalam hal ini juga harus memperhatikan kondisi ibu apakah sudah siap atau belum untuk melakukan penyapihan.

Untuk mempermudah pilihan waktu menyapih, ibu juga bisa memperhatikan tanda yang ada pada anak. Tanda-tanda ini biasanya cukup mudah diperhatikan. Sehingga saat anak sudah menunjukkan tanda kalau ia mulai terlihat malas dan rewel saat disusui atau hanya menyusu sekejap bahkan menolak ASI, maka biasanya ia dianggap sudah siap untuk disapih. Terlebih jika anak meronta minta turun atau lebih suka minum dari wadah seperti cangkir atau botol, maka artinya itu saat yang tepat untuk melakukan penyapihan.

Tahap dua

Tahap dua dari cara menyapih anak dari ASI yaitu dengan memulainya secara perlahan-lahan. Hal ini tentunya dilakukan agar anak bisa menerima bahwa dirinya tak lagi minum ASI secara bertahap sehingga ia terbiasa. Tahap dua ini, dilakukan dengan melalui beberapa cara.

  • Frekuensi dan Durasi Menyusui

Cara pertama untuk menyapih anak adalah dengan mengurangi frekuensi dan menyusui kepada anak. Untuk mengurangi frekuensi menyusui caranya yaitu dengan mengurangi jumlah pemberian ASI yang lebih sedikit dari biasanya. Misalnya biasanya 6 kali, diubah menjadi 4 kali atau lainnya. Agar lebih afektif, cara ini bisa dimulai di siang hari dan saat anak ingin minum ASI ia bisa dianjurkan minum susu lain sambil bermain sebagai distraksi.

Lalu untuk mengurangi durasi pastinya yaitu dengan mengurangi waktu dalam minum ASI. Misalnya jika anak bisanya minum ASI selama 20 menit maka bisa dikurangi sehingga menjadi 15 menit saja. Tentunya seiring berjalannya waktu, baik frekuensi atau durasi semakin dikurangi sehingga perlahan baik anak maupun ibu menjadi terbiasa.

  • Penggunaan Botol, Cangkir, dan gelas

Selain memperhatikan frekuensi dan durasi menyusui, agar penyapihan semakin cepat berhasil maka kebiasaan anak juga harus diubah. Dalam hal ini, anak tetap bisa diberikan ASI namun pemberiannya bisa melalui botol, cangkir, atau gelas. Bisa juga dengan diisi susu sapi atau formula jika memang dibutuhkan.

Dengan mengenalkan botol, cangkir, atau gelas kepada anak maka ia pun akan mulai mengenal cara minum susu dengan cara lain. Agar ia lebih tertarik dengan botol atau gelas yang digunakan maka ibu bisa memberinya botol, cangkir, atau gelas yang bergambar lucu. Dengan demikian, cara menyapih anak dari ASI yang satu ini akan mungkin memberikan keberhasilan yang cukup tinggi.

  • Memberi MPASI

Selain durasi, frekuensi hingga pemberian alternatif ASI dengan cara baru, cara berikutnya yaitu memberikan MPASI kepada anak. Cara selain dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak yang semakin banyak juga bisa digunakan sebagai pengalihan anak dari ASI.

Pemberian MPASI untuk makannya sehari-hari pastilah akan membuat anak kenyang sehingga ia pun enggan minum ASI. Untuk pemberian MPASI ini tentunya harus dilakukan di atas usia anak enam bulan. Jadi tak harus menunggu anak tumbuh gigi karena sejak ia bisa duduk dan kepalanya bisa tegak biasanya ia mulai bisa diberikan MPASI.

Dalam pemberian MPASI ini juga tentunya tak boleh memaksa. Anak dibiarkan mengenal makanannya sendiri dengan caranya. Barangkali anak akan makan dengan sangat berantakan atau bahkan menggunakan tangan kiri. Namun itu tak perlu dikhawatirkan karena untuk tahap awal, anak lebih baik dibiarkan mengeksplore dirinya dengan hal baru. Untuk kebersihan dan kaidah moral bisa diajarkan saat ia mulai bisa diajak memahami sesuatu.

Tahap tiga

Cara menyapih anak dari ASI tahap tiga yaitu tahap pengembangan yang mana biasanya membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Dalam hal ini tentunya ayah sang anak dan juga anggota keluarga lainnya. Peran keluarga ini menjadi sangat penting pada saat penyapihan lantaran dengan adanya dukungan keluarga maka distraksi anak akan ASI menjadi lebih beragam.

Distraksi pertama yang bisa diberikan yaitu dengan mengajak anak bermain bersama anggota keluarga atau ayahnya. Dengan memberikan waktu yang lebih banyak kepada anak untuk bermain dengan orang selain ibunya maka ia akan lupa dengan ASI.

Hal lainnya yang bisa mengalihkan anak dari ASI yaitu dengan mengubah kebiasaannya. Misalnya anak yang terbiasa menyusu saat hendak tidur atau bangun tidur, maka cara mengubah kebiasaannya yaitu dengan memberi anak susu botol sebagai alternatif atau membiarkan anak tidur bersama sang ayahnya. Dengan demikian, secara perlahan anak pun akan menjadi terbiasa tidur atau bangun tanpa menyusui.

Dalam hal ini, ibu juga harus bangun lebih awal dari anak agar ia tak melihat ibunya langsung saat bangun tidur. Dengan ibu yang sudah bangun, rapi, dan bersih serta sedang melakukan aktivitasnya, maka anak pun pastinya akan enggan atau lupa bahwa ia memiliki kebiasaan minum ASI saat bangun tidur.

Lalu agar anak tidak merasa kasih sayang ibu, ayah, dan anggota keluarganya berubah karena tak lagi memberinya ASI, maka perhatian dan kasih sayang kepada anak harus dicurahkan secara penuh. Ibu dan anggota keluarga lainnya bisa mengajak anak berbicara mengenai pemberian ASI, di mana sang anak sudah besar dan akan lebih baik jika ia membiasakan diri minum dari botol. Tentunya pemberian pengertian kepada anak ini harus secara perlahan dan diulang agar anak paham dan tak melupakannya.

Demikianlah tiga tahapan cara menyapih anak dari ASI yang perlu diketahui oleh ibu. Tentunya tahapan ini tidak seketika dan setiap anak pastilah unik sehingga caranya tidak harus sama persis. Yang penting dalam proses penyapihan adalah baik anak maupun ibu merasa nyaman dan aman sehingga hubungan erat mereka tetap terjaga hingga anak tumbuh dewasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *