invisible hit counter invisible bg invisible ico

Cara Mendidik Anak Laki-Laki Agar Terbentuk Pribadi yang Baik

Mendidik anak baik laki-laki maupun perempuan memiliki tantangan tersendiri, namun cara mendidik anak laki-laki memang sedikit berbeda karena perbedaan alami karakter laki-laki dan perempuan. Dulu sebelum memiliki buah hati, bisa jadi gambaran Anda tentang seorang anak adalah seperti yang tampak di majalah atau layar televisi: seorang anak yang lucu, menggemaskan, dan selalu memiliki suasana hati yang baik. Membesarkan anak pun tampak mudah: Anda tinggal menemaninya membolak-balik halaman buku cerita, atau membuat menara dari balok. Namun kini begitu menjadi orangtua, Anda akan menyadari bahwa seorang anak mungkin tidak selalu ‘patuh’ seperti yang Anda bayangkan. Pun dengan mendidik dan membesarkan anak.

Anak laki-laki umumnya lebih energik, agresif, dan mengedepankan fisik dibandingkan dengan anak perempuan. Meskipun tidak selalu demikian, tetap ada tips-tips yang dapat Anda praktikkan sebagai cara mendidik anak laki-laki agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang baik, peka terhadap sekitarnya, penuh pertimbangan, dan bertanggung jawab.

Ingat, Anda tidak hanya sedang mendidik seorang anak. Namun lebih jauh lagi, Anda sedang mendidik seorang calon pemimpin. Seseorang yang kelak akan menjadi suami bagi seorang wanita di masa depan, yang menjadi ayah bagi anak-anaknya, dan bertanggung jawab penuh atas keluarga yang ia bangun sendiri. Bayangkan seorang pria yang tidak peka terhadap lingkungan sekitarnya, tidak penyayang, manja, dan sembrono. Tentu bukan figur suami dan ayah idaman, bukan?

Berikut Cara Mendidik Anak Laki-Laki Agar Menjadi Pribadi yang Mengagumkan di Masa Depan

Langkah pertama dalam mendidik anak adalah memahami apa yang ada dalam pikirannya (hal ini berlaku baik dalam mendidik anak laki-laki maupun perempuan). Anak laki-laki umumnya menyukai permainan yang banyak menggunakan fisik, seperti misalnya tembak-tembakan, pedang-pedangan, atau polisi-polisian. Seringkali Anda melihatnya sebagai bentuk kekerasan sejak dini, namun tahukah Anda bahwa anak laki-laki melihatnya sebagai suatu bentuk ‘menyelamatkan dunia’?

Dengan memahami apa yang anak laki-laki Anda pikirkan, Anda tidak serta merta membuat peraturan yang akan melarangnya untuk melakukan hal tertentu secara membabi buta. Pada kasus di atas misalnya, Anda tidak akan serta merta melarangnya membeli pedang atau pistol mainan. Pada masa-masa ini, justru Anda dapat menekankan pentingnya benar dan salah. Anda juga dapat menanamkan nilai-nilai yang baik seperti bahwa menyakiti orang lain itu tidak baik, dan bahwa ia harus empati, serta berusaha memahami apa yang dirasakan orang lain.

Pada kasus di atas, apabila Anda masih khawatir akan permainan yang dilakukan anak laki-laki Anda, Anda dapat mengarahkannya untuk melakukan kegiatan lain yang berbasis aktivitas fisik. Anda juga dapat menetapkan peraturan di rumah bahwa tidak boleh ada aktivitas memukul, menendang, atau menggunakan barang-barang yang terdapat di rumah sebagai ‘senjata’. Di bawah ini adalah tips cara mendidik anak laki-laki lainnya yang mungkin berguna bagi Anda.

  • Menjadi role model bagi anak Anda

Bahkan ketika Anda sedang kalang kabut menghadapi tingkah anak Anda yang kadang ‘ajaib’, sangat penting untuk tetap tenang. Ketika Anda merespon kenakalannya dengan kekerasan (misalnya dengan mencubit atau memukul pantatnya), anak Anda mungkin akan menghentikan kenakalannya. Namun itu hanya sementara. Dalam jangka panjang, anak yang sering direspon dengan kekerasan juga akan memupuk benih-benih kekerasan dalam dirinya, dan akan tertanam dalam dirinya bahwa melakukan kekerasan pada orang lain baik fisik maupun verbal itu wajar.

Kesabaran adalah kunci. Dalam hal ini, cara mendidik anak laki-laki maupun perempuan tidak jauh berbeda. Anda boleh saja menerapkan disiplin, namun jangan ragu untuk memberikan pujian bagi anak apabila ia berperilaku baik. Panggil ia dengan sebutan yang baik. Gunakan bahasa yang baik, bahkan meskipun Anda sedang marah. Beri perhatian pada apa yang menjadi minatnya. Ajukan pertanyaan untuk menyelami dunianya lebih dalam, dan untuk mengetahui sedalam apa ia menyimpan minat pada sesuatu. Cara ini sangat berguna untuk menjembatani kesenjangan antara anak dan Anda.

  • Tanamkan rasa kepekaan terhadap sesama

Menanamkan pada anak tentang rasa peka terhadap lingkungan sekitarnya dapat melalui hal-hal yang sederhana. Misalnya, jelaskan padanya pentingnya berbagi mainan atau makanan dengan teman sebaya yang tidak memiliki. Ajarkan pula untuk baik terhadap hewan. Selain cerita kepahlawanan dan kepatuhan pada Tuhan, Anda juga dapat membacakan cerita tentang tokoh yang mengajarkan kedamaian dan kesetaraan antar sesama (tidak ada istilah terlalu dini untuk menceritakan tentang Mahatma Gandhi atau Martin Luther King!).

  • Ajarkan mereka untuk tidak malu mengekspresikan perasaannya

Terlalu sering anak laki-laki dipuji atas prestasi yang berhasil mereka raih alih-alih atas bagaimana mereka memperlakukan teman sebayanya. Terlalu sering pula anak laki-laki dibesarkan untuk menjadi independen, tabah, kuat, dan agar menyembunyikan perasaan mereka. Faktanya, anak laki-laki yang tumbuh dengan ‘topeng maskulinitas’ tersebut rentan menjadi pribadi yang agresif dan selalu ingin menang sendiri serta abai terhadap perasaan orang lain. Mereka akan tumbuh menjadi sosok yang tampak kuat namun sesungguhnya rapuh di dalam.

You can cry, ain’t no shame in it,” demikian ungkapan yang populer dari seorang Will Smith. Cara mendidik anak laki-laki seperti ini tidak akan membuatnya menjadi ‘banci’. Tidak perlu malu mengungkapkan perasaan. Hal ini tidak hanya berlaku bagi anak Anda, namun juga Anda. Meskipun Anda telah memenuhi semua kebutuhannya mulai dari makanan, pakaian, tempat tinggal, dan pendidikan, anak Anda juga butuh bahasa kasih, sebagai jaminan bahwa ia dicintai.

Anak yang tumbuh dengan bahasa kasih, yang belajar bagaimana mengidentifikasi sebuah rasa, dan yang mampu mengekspresikan perasaan tersebut, akan tumbuh menjadi pribadi yang menghargai kasih sayang dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

  • Tanamkan tanggung jawab sejak dini

Cara mendidik anak laki-laki adalah dengan mengajarkannya tanggung jawab. Tidak ada kata terlalu dini untuk mengajarkan tanggung jawab pada anak. Bahkan anak usia 3 tahun dapat mulai diajari konsep tanggung jawab. Anda dapat memulainya dengan mengajarkan anak membereskan mainannya sendiri setelah dipakai, misalnya (tentu saja dengan cara yang sesuai dengan tumbuh kembang usianya). Begitu beranjak dewasa, ajarkan tanggung jawab dengan mendelegasikan padanya tugas-tugas rumah tangga seperti membuang sampah setiap pagi, membereskan kamar sendiri, mencuci piring sendiri setelah makan, atau tugas lain yang disepakati bersama.

Dalam mendelegasikan tugas rumah tangga, jangan beranggapan bahwa tugas tertentu hanya pantas dikerjakan oleh anak perempuan, dan tugas lainnya lebih pantas dikerjakan oleh anak laki-laki. Jangan tanamkan pemikiran tersebut pada anak laki-laki Anda. Hal ini karena, pasti kelak akan ada situasi tertentu dimana ia dituntut harus bisa memasak atau terampil mencuci, atau membersihkan rumah. Percayalah, tidak akan berkurang maskulinitas seorang pria, hanya karena ia tidak segan turun ke dapur dan membantu pekerjaan rumah tangga.

  • Jangan memberikan fasilitas dengan mudah

Sebagai orang tua, kadang Anda terpecah antara ingin membekalinya dengan fasilitas-fasilitas untuk memudahkan hidupnya dan ingin melihatnya menjadi pribadi yang mandiri. Poin ini sebetulnya erat hubungannya dengan poin sebelumnya, yakni tentang tanggung jawab. Sebelum memberikan fasilitas-fasilitas tertentu (misalnya telepon genggam atau kendaraan bermotor), sudahkah ia cukup bertanggung jawab?

Perhatikan bahwa Anda memberikan fasilitas-fasilitas tersebut bukan karena ia sudah mencapai usia tertentu. Bukan pula karena teman-teman sebayanya sudah memiliki fasilitas serupa. Namun karena ia sudah mampu untuk diberi tanggung jawab yang lebih berat. Untuk itu, apabila anak Anda masih harus diingatkan untuk melakukan hal-hal yang menjadi tugasnya, dan apabila ia masih belum memiliki kesadaran untuk menjaga dan merawat barang-barangnya, mungkin belum waktunya ia menerima fasilitas yang lebih besar dari orangtuanya.

Tentu saja ada banyak cara mendidik anak laki-laki lainnya yang mungkin belum tercantum dalam artikel ini. Menjadi orangtua memang tidak memiliki panduan tertulis. Ikutilah kata hati Anda dalam perjalanan Anda menemani putra-putri Anda tumbuh dewasa, dan tak lupa berdoa pada Tuhan Yang Maha Kuasa .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *