invisible hit counter

Waspadai Penyakit Kejang Demam yang Mengintai Buah Hati Anda

Waspadai Penyakit Kejang Demam yang Mengintai Buah Hati AndaPenyakit kejang demam merupakan salah satu dari sekian banyak penyakit yang mengintai kesehatan sang buah hati. Angka kejadian penyakit yang satu ini cukup tinggi, di negara-negara barat angka kejadian kejang demam bisa mencapai 5% dan di negara-negara Asia berkisar 4,47% dari jumlah total populasi anak. Data di Indonesia memang belum ada secara nasional akan tetapi penyakit kejang demam ini tetap membutuhkan perhatian serius dari orang tua. Kasus kejang demam sendiri umumnya terjadi pada usia 6 bulan hingga 5 tahun dengan puncak rata-rata usia penderitanya adalah 14-18 bulan. Di dalam artikel ini, kami akan menyajikan sejumlah informasi mengenai penyakit kejang demam ini baik dari segi pengertian, penyebab, gejala yang ditemukan hingga penanganan awal yanag perlu diketahui oleh orang tua. Mari kita simak pembahasannya!

Apa yang Perlu Diketahui tentang Penyakit Kejang Demam?

Kejang demam adalah sebuah penyakit yang menimbulkan gejala berupa kejang yang terjadi akibat peningkatan suhu tubuh dengan cepat hingga lebih dari 38◦C dan peningkatan suhu ini terjadi sebagai akibat dari proses infeksi di luar otak atau sistem saraf. Suhu normal seorang anak berkisar antara 36,7◦-37,2◦C, peningkatan suhu ini bisa disebabkan oleh infeksi dari berbagai organ yang sering kali menyerang anak-anak.

Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa dalam kejang demam, harus terjadi demam sebelum penderitanya mengalami kejang. Kejang demam sendiri merupakan penyebab kejang tersering pada anak dan memiliki prognosis sangat baik jika penanganan yang diberikan cepat dan tepat. Namun perlu diketahui beberapa kondisi berbahaya juga dapat menyebabkan seorang anak mengalami kejang yang juga disertai demam, seperti pada infeksi sistem saraf pusat. Selain itu penting juga bagi orang tua, untuk memperhatikan apakah terdapat riwayat trauma kepala sebelumnya karena bisa saja menjadi pencetus kejang pada anak.

Untuk itu penyakit kejang demam ini tidak bisa dianggap biasa oleh orang tua, orang tua perlu memperhatikan apakah ada riwayat sang anak mengalami kejang tanpa didahului oleh demam sebelumnya, apakah dikeluarga ayah atau ibu penderita memilki riwayat kejang dengan atau tanpa disertai demam, apakah anak kita pernah mengalami kejang saat berusia di bawah 6 bulan atau di atas 5 tahun. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan, karena akan sangat membantu tenaga medis untuk memikirkan apakah ada kemungkinan penyebab lain di luar penyakit kejang demam.

Apa Penyebab Seorang Anak Mengalami Penyakit Kejang Demam?

Perubahan dasar dalam metabolisme tubuh yang menyebabkan seorang anak mengalami kejang adalah peningkatan suhu yang terlalu cepat terjadi saat sang anak mengalami infeksi. Infeksi yang paling banyak menjadi pemicu kejang demam adalah infeksi saluran nafas akut, infeksi telinga tengah akut, Roseola (sebuah penyakit yang ditandai dengan bintik atau bercak berwarna merah pada kulit), infeksi saluran kemih maupun infeksi saluran cerna.

Saat seseorang mengalami infeksi seperti pada kondisi-kondisi yang sudah disebutkan di atas, di dalam tubuh kita dilepaskan substansi kimia sebagai respon terhadap proses radang yang terjadi dalam tubuh yang akan meyebabkan sensitasi bagian tertentu di otak yang berujung pada terjadinya kejang terutama pada anak. Beberapa teori dalam dunia kedokteran menyatakan bahwa penyakit kejang demam diturunkan secara genetik sehingga anak-anak yang memiliki riwayat orang tua pernah mengalami kejang demam sebelumnya akan lebih mudah terserang penyakit ini.

Bagaimana Gejala Penyakit Kejang Demam?

Kejang demam pada anak dibagi 2 menurut karakteristik gejala yang ditimbulkan oleh penderita saat mengalami kejang itu sendiri. Kejang demam tipe I disebut dengan kejang demam simpleks atau kejang demam sederhana, pada kejang demam jenis ini penderitanya akan mengalami kejang kelojotan pada seluruh tubuh yang didahului oleh demam sebelumnya. Kejang demam sederhana hanya akan terjadi 1 kali dalam 24 jam dengan durasi atau lama kejang kurang dari 15 menit.

Kejang demam tipe II adalah kejang demam kompleks yang memiliki derajat keparahan lebih berat dibandingkan dengan kejang demam sederhana. Pada kejang demam kompleks seorang anak bisa saja mengalami kejang pada salah satu sisi tubuhnya saja, yang berlangsung lebih dari 15 menit dan dapat berulang dalam 24 jam. Akan tetapi, sebagai orang tua Anda tidak perlu khawatir karena 80% dari keadaan kejang yang ditemukan pada anak-anak disebabkan oleh kejang demam tipe sederhana.

Selain gejala kejang yang sudah kita bahas di atas, kita perlu memperhatikan gejala dari penyakit penyerta yang menjadi pencetus terjadinya kejang demam itu sendiri. Keluhan-keluhan yang terjadi dalam rentang 1 minggu sebelum sang buah hati mengalami kejang perlu disampaikan kepada dokter yang menangani. Seperti kapan timbul demam, apakah demam disertai dengan batuk atau flu sebelumnya, apakah anak mengeluhkan sakit kepala, mual, muntah, diare, gangguan buang air kecil dan kelainan lainnya.

Lalu, Bagaimana Penanganan Penyakit Kejang Demam Ini?

Penanganan awal penyakit kejang demam akan menjadi informasi terakhir yang akan kita bahas dalam artikel ini. Dalam penanganan kejang demam yang perlu diperhatikan oleh Anda sebagai orang tua adalah jangan panik! Jika Anda menemukan anak mengalami kejang segera bawa anak Anda ke rumah sakit guna mendapat pemeriksaan dan terapi secepatnya. Posisikan anak Anda dalam posisi miring jika masih kejang, selama dalam perjalanan ke rumah sakit untuk mencegah makanan masuk ke dalam saluran nafasnya.

Sebagai persiapan di rumah sangat penting jika Anda memiliki obat penurun panas seperti parasetamol yang sudah banyak kita temukan terjual bebas di pasaran. Adanya obat parasetamol ini di rumah membantu Anda jika sang anak jatuh sakit dan timbul demam. Jika anak Anda mengalami demam apapun infeksi yang mendasarinya, sebagai pertolongan pertama berikan dahulu parasetamol dan segera periksakan anak Anda ke dokter untuk mencari penyebabnya.

Hal ini menjadi penting dilakukan mengingat, kondisi kejang yang kita bahas dalam artikel ini mutlak didahului oleh peningkatan suhu tubuh. Sehingga dengan menurunkan suhu tubuh penderita sebelumnya akan mengurangi risiko sang buah hati terkena kejang. Selain menggunakan obat-obatan, untuk menjaga suhu tubuh anak agar jangan meningkat terlalu tinggi Anda bisa memberikan kompres dengan menggunakan air dingin.

Setelah membahas beberapa informasi mengenai penyakit kejang demam pada anak ini, sebagai orang tua Anda perlu mengetahui bahwa anak-anak yang pernah mengalami kejang demam memiliki risiko mengalami kejang demam berulang suatu hari nanti. Menurut data statistik, dari total seluruh anak dengan riwayat pernah mengalami kejang demam, sebesar 30-50% akan mengalami kejang demam ulangan dan hampir selalu timbul setelah 1 tahun onset awal.

Untuk itu, ibu tidak perlu khawatir mintalah penjelasan dari dokter yang menangani anak Anda dan persiapkan obat-obatan yang diperlukan untuk mencegah terjadinya kejang berulang. Sekian dan terima kasih!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *