invisible hit counter

Inilah Jenis Pendarahan saat Hamil Muda yang Perlu Diwaspadai

Pendarahan saat hamil muda sangat perlu diwaspadai kemunculannya. Ada beberapa yang terjadi secara alamiah (normal) namun tidak sedikit juga yang menjadi indikasi adanya suatu masalah dalam kehamilan. Pendarahan yang mengindikasikan adanya ketidakberesan dalam kehamilan bisa jadi mengarah pada kemungkinan abortus (keguguran), kehamilan ektopik (kehamilan di luar kandungan), kehamilan anggur, dll. Oleh karenanya, penting bagi ibu untuk mengenali setiap gejala yang timbul. Penanganan secara lebih dini tentu akan banyak meminimalisir kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.

Pendarahan saat hamil muda dikatakan masih dalam kondisi normal ketika berupa spotting atau flek. Penyebab dari kejadian ini adalah saat masa awal kehamilan, terjadi penempelan hasil konsepsi ke dinding rahim, sehingga pada beberapa ibu hamil akan terjadi flek meski tidak selalu demikian. Namun jika pendarahan yang terjadi dalam jumlah yang banyak dan berwarna segar bahkan disertai rasa nyeri berkepanjangan, ibu perlu mewaspadainya.

Pendarahan bisa terjadi dalam rentang usia kehamilan berapa pun. Pembahasan kali ini akan membatasi pada rentang kehamilan muda saja. Perlu diketahui bahwa hingga saat ini angka kejadian pendarahan masih cukup tinggi dan merupakan salah satu komplikasi yang sering ditemui selama kehamilan.

Mengenal Macam Pendarahan saat Hamil Muda

Pendarahan saat hamil muda bisa diartikan sebagai adanya pengeluaran darah selama kehamilan dalam rentang waktu kurang dari 20 minggu. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa ada berbagai kemungkinan yang biasa menyertai yakni abortus, kehamilan ektopik, kehamilan anggur, dan lainnya. Mari coba kita bahas satu per satu.

1. Abortus (keguguran)

Abortus diartikan sebagai ancaman pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin siap hidup di luar kandungan dengan batasan usia kehamilan kurang dari 20 minggu dan berat janin kurang dari 500 gram.

Kejadian abortus ini bisa terjadi karena dilatarbelakangi beberapa hal yang menjadi pencetusnya. Pertama,dari faktor janin dapat berupa kelainan genetik. Kedua, dari faktor ibu yang meliputi infeksi, diabetes mellitus, malnutrisi, penggunaan obat-obatan tertentu, merokok, konsumsi alkohol, dll. Ketiga, faktor dari ayah berupa kelainan sperma. Abortus dalam kehamilan dibagi menjadi lima jenis yakni:

  • Abortus Imminens

Abortus imminens ditandai dengan keluhan berupa sedikit mulas atau bahkan tidak ada keluhan sama sekali kecuali pendarahan. Kondisi serviks masih menutup dan hasil konsepsi masih dalam kondisi baik di dalam kandungan.

Jika didapati gejala seperti yang tersebut tadi maka segera periksakan kehamilan Anda ke fasilitas kesehatan. Bedrest total akan dianjurkan pada Anda hingga perdarahan berhenti. Selain itu pemberian terapi beberapa obat penguat kehamilan akan diberikan. Selama kurang lebih dua minggu dianjurkan untuk tidak melakukan hubungan dengan suami terlebih dahulu.

  • Abortus Insipiens

Abortus insipiens ditandai dengan rasa mulas karena kontraksi yang sering dan kuat, serta pendarahan yang kian bertambah jumlahnya seiring dengan pembukaan serviks dan usia kehamilan.

Jika ditemui tanda-tanda seperti tersebut tadi, tidak ada pilihan lain selain segera pergi ke rumah sakit. Dokter akan mempertimbangkan keadaan umum ibu, kondisi hemodinamik ibu, serta kondisi janin, sebelum memutuskan tindakan. Jika perdarahan berlangsung dalam jumlah yang banyak, kemungkinan evakuasi (pengeluaran hasil konsepsi) akan dilakukan.

  • Abortus Inkomplet

Abortus inkomplet ini ditandai dengan hasil konsepsi yang telah keluar dan masih ada yang tertinggal. Pendarahan biasanya masih terjadi. Konsistensi jumlah pengeluarannya pun disesuaikan dengan banyak atau sedikitnya jaringan yang tersisa. Bila pendarahan menghebat, dokter akan segera melakukan pengeluaran sisa konsepsi secara manual.

  • Abortus Kompletus

Abortus kompletus ditandai dengan telah keluarnya semua hasil konsepsi. Perdarahan biasanya hanya tinggal terjadi sedikit karena uterus sudah mengecil. Dalam abortus kompletus ini biasanya sudah tidak diperlukan tindakan maupun pengobatan khusus lagi.

  • Missed Abortion

Abortus jenis ini ditandai dengan embrio yang telah meninggal dalam kandungan usia 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan. Biasanya ibu merasakan pertumbuhan kehamilannya tidak seperti yang diharapkan. Dokter akan melakukan tindakan sesuai dengan usia kehamilan dan juga mempertimbangkan kondisi plasenta. Ibu perlu mendapatkan pendampingan psikologis dari keluarga terdekat.

2. Kehamilan di Luar Kandungan (Ektopik)

Jenis pendarahan saat hamil muda selanjutnya adalah kehamilan ektopik. Kehamilan ektopik adalah kehamilan dengan hasil pembuahan yang menempel di luar rahim, kebanyakan terjadi di saluran telur. Penyebab tersering kehamilan ektopik adalah karena sel telur yang sudah dibuahi tersendat perjalanannya menuju endometrium sehingga embrio sudah terlanjur berkembang sebelum mencapai kantong rahim.

Bila tempat penempelan hasil konsepsi tersebut tidak dapat menyesuaikan diri dengan besarnya buah kehamilan, akan terjadi robekan yang menjadi kehamilan ektopik terganggu. Jika hal ini terjadi biasanya disertai gejala semacam perdarahan mulai dari bercak hingga sedang, nyeri perut dan punggung, pucat, hingga kesadaran menurun. Segera bawa ke rumah sakit jika menemui gejala tersebut.

3. Kehamilan Anggur (Mola Hidatidosa)

Kehamilan anggur adalah kehamilan yang berkembang tidak wajar dengan tidak ditemukannya janin. Pada mulanya, kehamilan mola tidak menunjukkan perbedaan yang berarti dengan kehamilan normal. Ibu akan tetap mendapati gejala mual, muntah, pusing, hanya saja derajat keluhannya menjadi lebih sering dan hebat.

Gejala khas dan utama dari kehamilan mola adalah terjadinya pendarahan pada usia 12-14 minggu. Intensitas perdarahan biasanya sedikit-sedikit atau atau sekaligus banyak sehingga menyebabkan syok. Tidak ada ada pilihan lain selain segera membawa ke rumah sakit jika menemui gejala tersebut.

Usaha yang Dapat Dilakukan untuk Mencegah Terjadinya Pendarahan saat Hamil Muda yang Berbahaya

Kehamilan yang sehat tentu adalah yang diharapkan oleh semua ibu hamil. Namun melihat kejadian penyulit semacam pendarahan saat hamil muda ini yang tak sedikit kemunculannya, penting bagi ibu hamil untuk melakukan berbagai usaha pencegahan di antaranya:

  • Mengurangi beban aktifitas yang berat. Pada masa awal kehamilan aktifitas fisik yang berat akan sangat berpengaruh pada kondisi kehamilan. Disarankan untuk melakukan aktifitas ringan demi mencegah timbulnya flek atau perdarahan.
  • Beristirahat secara cukup. Istirahat yang cukup dapat memberikan banyak manfaat. Pikiran yang tenang dan rileks dapat diciptakan dengan istirahat cukup. Pikiran banyak memegang peranan penting dalam kondisi kehamilan ibu.
  • Rajin melakukan pemeriksaan selama hamil. Ibu hamil yang rutin melakukan pemeriksaan hamil secara rutin dapat meminimalisir terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Setidaknya dengan pemeriksaan hamil secara rutin ini, banyak hal yang dapat terdiagnosa secara dini. Penanganan pun dapat lebih dini dilakukan.
  • Segera ke dokter jika menemui hal-hal yang tidak normal seperti perdarahan hingga rasa nyeri yang tak tertahankan. Tindakan segera akan banyak menolong kelangsungan kehamilan ibu.

Pada dasarnya kepekaan ibu terhadap kehamilan menjadi kunci penting kesehatan selama hamil. Berhati-hati dalam mengelola kehamilan dengan beraktifitas secara wajar, rutin berolahraga, mengonsumsi nutrisi yang cukup, serta mengendalikan pikiran yang positif sangat membantu mencegah kehamilan yang bermasalah, termasuk kejadian pendarahan saat kehamilan muda seperti yang telah di bahas di atas .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *