invisible hit counter

Berbagai Cara Penularan HIV AIDS yang Wajib Anda Cegah

Informasi mengenai cara penularan HIV AIDS penting diketahui agar kita semua dapat melakukan pencegahan terhadap penyakit mematikan ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa angka kejadian dan kematian akibat penyakit HIV AIDS selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Sehingga kita semua harus waspada dan mempunyai kewajiban untuk melindungi diri dan keluarga dari penularan HIV AIDS. Anda mungkin tidak menyadari bahwa virus HIV ada disekitar Anda dan dapat mengincar setiap saat. Oleh karena upaya pencegahan penyakit ini harus terus disosialisasikan untuk memutus mata rantai penularannya.

Penyakit HIV AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus), dimana virus ini menyerang sistem pertahanan tubuh manusia (sel limfosit). Jadi HIV merupakan nama virusnya sedangkan Aids (Acquired Immuno Deficiency Syndrome) merupakan penyakit yang ditimbulkannya. Namun di khalayak istilah penyakit ini sering digabungkan menjadi penyakit HIV AIDS. Sebelum menunjukkan gejala, penderita penyakit ini sering disebut sebagai penderita HIV positif. Kemudian setelah menimbulkan berbagai gejala penurunan imunitas tubuh, maka hal itu merupakan tanda bahwa HIV telah berkembang menjadi Aids. Proses perkembangan HIV positif menjadi Aids ini biasanya terjadi dalam waktu yang cukup lama (pada umumnya 5 sampai 10 tahun).

Cegahlah Berbagai Cara Penularan HIV AIDS Berikut Ini

Kita seringkali mengalami kekhawatiran yang berlebihan akibat takut tertular virus HIV. Mungkin ada yang mengira bahwa dengan bersentuhan atau berjabat tangan dengan penderita HIV AIDS maka kita dapat tertular, padahal hal itu tidak benar. Waspada memang suatu kewajiban, tetapi tentunya harus mengetahui ilmunya supaya tidak terjadi ketakutan yang berlebihan. Agar kita mempunyai kewaspadaan yang tepat sasaran, maka berikut ini adalah cara penularan HIV AIDS yang perlu Anda ketahui:

  1. Melalui cairan darah

Cara penularan HIV AIDS yang pertama yaitu melalui cairan darah. Dengan masuknya virus HIV ke sistem pembuluh darah, sudah tentu akan menyebabkan virus ini berkembang di dalam tubuh manusia. Ada berbagai cara masuk virus HIV dari penderita HIV ke dalam pembuluh darah orang lain sehingga terjadilah penularan penyakit HIV AIDS. Cara tersebut yaitu melalui tranfusi darah, jarum suntik, dan berbagai alat tusuk yang menembus kulit.

Cara penularan HIV AIDS melalui tranfusi darah yaitu melalui darah pendonor yang mengandung virus HIV. Oleh karena itu sebelum menerima pendonor, sebaiknya pastikan bahwa pendonor darah tersebut bebas dari virus HIV. Selain itu penggunaan alat tranfusi yang tidak steril juga dapat menjadi media penularan. Dalam hal ini tenaga medis, terutama di unit donor darah maupun unit tranfusi darah sangat berperan untuk menyediakan kantung darah yang benar-benar terbebas dari virus HIV dan alat yang digunakan benar-benar alat yang steril (sekali pakai).

Sedangkan cara penularan HIV AIDS melalui jarum suntik sering dialami oleh para pecandu narkoba yang bergantian dalam menggunakan narkoba suntik. Selain itu, jarum suntik yang dipakai berkali-kali dalam pelayanan medis tentunya juga sangat berisiko menularkan virus HIV. Tetapi saat ini di fasilitas pelayanan kesehatan tentunya sudah mewajibkan untuk menggunakan jarum suntik sekali pakai. Alat-alat tusuk lain yang menembus kulit dan dipakai secara bergantian juga riskan menularkan virus HIV, seperti alat tato, alat tindik, jarum akupuntur, dan sebagainya.

  1. Melalui cairan organ intim

Cara penularan HIV AIDS melalui cairan organ intim saat ini semakin meningkat jumlahnya dan menjadi media yang paling mudah untuk menularkan virus HIV. Hal ini dikarenakan banyaknya prostitusi baik yang terselubung maupun terang-terangan sehingga menyebabkan orang dengan seenaknya berganti-ganti pasangan. Terlebih lagi jika pada saat berhubungan intim tersebut tidak menggunakan kondom. Cara penularan ini tidak hanya mengakibatkan para pencari dan penjaja seks saja yang dapat tertular virus HIV, namun orang-orang yang tidak berdosa yaitu para pasangan resminya di rumah yang tidak tahu apa-apa juga dapat ikut tertular.

Penularan virus HIV tidak hanya ditularkan melalui hubungan intim pasangan yang berlawanan jenis (heteroseks), tetapi dapat pula menular pada pasangan sesama jenis (homoseks). Penularan pada pasangan homoseks ini biasanya terjadi akibat hubungan melalui anus, padahal pembuluh darah di anus mudah sekali ruptur/pecah, sehingga jika salah satu membawa virus HIV maka akan dengan mudah masuk ke pembuluh darah.

  1. Penularan dari ibu ke bayinya

Cara penularan HIV AIDS juga dapat mudah ditularkan dari ibu kepada bayinya. Penularan dapat terjadi pada saat proses persalinan di mana darah ibu dan cairan dalam rahim (sekresi maternal) dapat mengkontaminasi bayinya pada saat persalinan. Sedangkan penularan melalui plasenta dari berbagai penelitian justru tidak terjadi. Sebab HIV tidak dapat menembus plasenta sehingga risiko penularan pada saat kehamilan relatif kecil.

Selain pada saat proses persalinan, penularan virus HIV dari ibu ke bayinya juga dapat ditularkan melalui ASI (Air Susu Ibu). Untuk mencegah terjadinya penularan virus HIV dari ibu ke anak ini maka penting dilakukan skrining pada ibu hamil atau bahkan pada saat menikah. Sehingga jika ibu ataupun ayahnya menderita HIV positif maka calon bayi nanti yang akan dilahirkan dapat dicegah dari penularan virus HIV.

Jika calon ibu yang menderita HIV diketahui sejak dini, biasanya dokter akan memberikan terapi obat ARV (Anti Retro Virus), persalinan dengan metode operasi caesar, dan memberikan metode menyusui yang benar, serta tindakan lain yang meminimalkan kontaminasi darah atau cairan ibu ke tubuh bayi. Dengan cara ini maka kemungkinan penularan HIV dari ibu ke bayi sangat kecil dan bahkan tidak terjadi sama sekali (dapat mencapai 0%).

Setelah mengetahui cara penularan HIV AIDS seperti yang diterangkan di atas, maka tentunya Anda harus dapat melakukan tindakan pencegahan agar terhindar dari penyakit tersebut. Langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain yaitu dengan tetap setia pada pasangan masing-masing, menjauhi narkoba, jika melakukan tranfusi darah pastikan bahwa darahnya terbebas dari virus HIV, petugas medis harus menggunakan alat-alat medis yang steril terutama yang berhubungan dengan cairan tubuh pasien, serta melakukan skrining pada calon ibu pada masa kehamilan untuk mencegah bayinya agar tidak tertular virus HIV. Hal yang perlu diingat adalah bahwa virus HIV tidak dapat menular melalui bersentuhan, berpelukan, ciuman, makan dan minum bersama dengan peralatan yang sama, penggunaan fasilitas umum bersama, keringat, air liur, air kencing, maupun gigitan nyamuk.

Gejala HIV AIDS biasanya akan terlihat setelah perkembangan lanjut dari HIV positif menjadi Aids. Gejala yang ditampakkan antara lain yaitu penurunan berat badan yang drastis, terjadi diare yang terus-menerus, batuk yang susah sembuh, pembengkakan kelenjar getah bening, mudah menderita sariawan, mudah tertular penyakit infeksi, demam, mudah lelah, dan mengalami penurunan fungsi tubuh seperti pada sistem pernafasan, pencernaan, maupun sistem syaraf. Saat ini, penyakit HIV AIDS belum ditemukan obatnya. Namun metode pengobatan HIV AIDS yang dipandang efektif untuk menghambat perkembangan virus dan menurunkan risiko penularannya yaitu dengan obat ARV (Anti Retro Virus). Dengan obat ARV ini maka penderita HIV AIDS memiliki angka harapan dan kualitas hidup yang lebih tinggi serta akan menurun risikonya menularkan ke orang lain. Bahkan obat ini dapat mencegah penularan HIV AIDS dari ibu hamil ke bayinya jika dikonsumsi sesuai anjuran dokter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *